Menangkap Makna menyebarnya Virus Corona
Covid 19
Mengawali khutbah pada kesempatan kali ini, khatib berwasiat kepada semua jamaah Jumat , terutama kepada diri Saya pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah swt.
dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan.
Hadirin jama'ah Jumat yang dirahmati Allah,
Bulan Rajab sudah berlalu meninggalkan kita. Begitupun bulan Sya’ban,
Dan gerbang menuju sebuah pendidikan tempat bagi kita semua untuk menempa diri, yaitu bulan Suci Ramadhan Sudah kita lalui.
hari yang pitri pun baru saja terlewati tapi musibah belum juga beranjak dari Negeri kita. Semakin hari diluar sana semakin banyak orang yang terinfeksi virus
. Dari waktu ke waktu semakin banyak orang yang meninggal karena terpapar virus .
marilah kita jadikan musibah mewabahnya virus corona ini sebagai pelajaran bagi kita semua. Kita yakin bahwa dalam setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Setiap kejadian pasti ada maknanya. Setiap musibah pasti ada pelajaran yang bisa dipetik darinya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
: رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا (ءال عمران: ١٩١)
Maknanya: “Ya Tuhan kami, kami bersaksi bahwa tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia (melainkan mempunyai hikmah dan tujuan di balik ciptaan itu semua)” (QS Al ‘Imran: 191).
Pada kesempatan khutbah ini, khatib akan mengulas tema
“mencari hikmah di balik merebaknya covid 19”.
Hadirin rahimakumullah,
Sebagaimana diberitakan bahwa virus corona ini bisa menyerang siapa pun. Tua, muda, kaya, miskin, laki-laki, perempuan, muslim, non muslim, orang yang shalat, orang yang tidak shalat. Siapa pun tanpa terkecuali. Hal ini mengingatkan kita akan apa yang pernah ditanyakan Zainab binti Jahsy radliyallahu ‘anhu kepada Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟
Maknanya: “Apakah kita akan binasa, padahal di antara kita masih ada orang-orang yang shalih?” atau mu'min
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ
Maknanya: “Iya, jika dosa dan maksiat sudah banyak dilakukan” (HR Muslim).
Melalui wabah COVID 19 , kita diingatkan bahwa dosa, maksiat, dan kemungkaran telah mewabah di lingkungan kita, di masyarakat kita. Melalui virus itu , kita juga ditegur bahwa banyak di antara kita yang acuh tak acuh terhadap kemungkaran yang menjalar di tengah-tengah kita.
Kemungkaran, dosa dan maksiat itulah yang mengundang azab Allah kepada kita semua. Kita diingatkan untuk lebih giat lagi dalam beramar makruf dan bernahi mungkar. Tentu amar makruf kita harus dilandasi ilmu sehingga kita dapat beramar makruf dengan cara yang makruf, dengan cara yang baik, dan bernahi mungkar dengan cara yang tidak mungkar.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Melalui wabah itu , kita juga diingatkan untuk semakin mendekatkan diri kita kepada Allah dengan ibadah, dzikir dan lain sebagainya. Ibadah akan menenteramkan jiwa dan menenangkan hati. Ketenteraman dan ketenangan hati inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat daya tahan tubuh kita semakin kuat dan sistem imun dalam tubuh kita bekerja dengan baik.
Kita diingatkan untuk memperbanyak istighfar dan bertobat dari semua dosa yang pernah kita lakukan.
Karena musibah yang menimpa banyak orang seperti merebaknya virus corona itu , yang shalih dan yang fasiq pun tak luput terkena,
tiada lain dikarenakan banyaknya kemaksiatan yang menyebar di tengah-tengah masyarakat kita.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Melalui wabah itu , kita juga diingatkan bahwa segala sesuatu tidak terlepas dari takdir Allah. Virus itu dengan cepat telah menyebar ke 198 negara di dunia dan menginfeksi lebih dari 600.000 orang. Angka ini bisa saja terus bertambah dari hari ke hari.
ikhtiar sudah dilakukan.
Semua usaha telah dikerahkan.
Seluruh upaya, baik lahir maupun batin, sudah dikerjakan semaksimal dan seoptimal mungkin. Namun sampai detik ini tiada siapa pun yang dapat menghentikan penyebarannya. Terkecuali dengan se ijin Allah SWT
Hal ini membuktikan bahwa apa pun yang diupayakan manusia, jika tidak dikehendaki dan ditakdirkan Allah, pasti tidak akan terjadi.
Akan tetapi keyakinan dan keimanan kita kepada takdir tidak boleh menghentikan ikhtiar kita. Berikhtiar tidaklah menggoyahkan keimanan kita kepada takdir.
Karena kita tidak mengetahui apa yang Allah takdirkan pada diri kita kecuali setelah terjadinya. Sebelum sesuatu terjadi, maka tugas kita sebagai manusia adalah melakukan sebab dengan harapan kita akan menghasilkan akibat.
Tugas kita selanjutnya apa?.
Terus berikhtiar dan berusaha,
Semoga Allah mewujudkan dan menakdirkan apa yang kita inginkan. Wabah itu cepat berlalu.
Melalui virus corona kita juga diingatkan akan kelemahan kita sebagai makhluk Allah.
Sebagai makhluk yang lemah yang memiliki banyak keterbatasan, tidak selayaknya kita menyombongkan diri.
Hanya oleh makhluk yang sangat kecil saja, banyak orang dibuat tak berdaya, jatuh sakit dan bahkan meninggal dunia.
Hanya Allah yang Mahakuasa dan tidak terkalahkan. Sedangkan kita adalah makhluk-makhluk lemah yang senantiasa membutuhkan Allah dalam setiap tarikan nafas kita.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Melalui virus corona kita juga diingatkan bahwa pengetahuan manusia tidaklah mampu menjangkau segala sesuatu. Pengetahuan manusia ada batasnya dan tidak sempurna. Allah-lah Sang Pemilik semua ilmu.
Allah-lah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Beberapa penyakit yang lain. Seperti aids juga sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan:
إِنَّ اللهَ لَمْ يُنْزِلْ دَاءً - أَوْ لَمْ يَخْلُقْ دَاءً - إِلَّا أَنْزَلَ - أَوْ خَلَقَ - لَهُ دَوَاءً عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ، وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ إِلَّا السَّامَ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا السَّامُ؟ قَالَ: المَوْتُ
Maknanya: “Sesungguhnya Allah tidaklah menciptakan penyakit kecuali Ia pasti menciptakan obat untuknya, kecuali kematian” (HR al-Hakim dalam al-Mustadrak).
Hadirin yang dirahmati Allah,
Saudaraku seiman,
Virus corona juga mengingatkan kita akan arti penting sabar dan syukur.
Bersyukur apabila kita dihindarkan dari segala macam musibah dan bersabar pada saat kita ditimpa musibah.
Syukur dan sabar adalah senjata bagi seorang mukmin dalam mengarungi kehidupan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Maknanya: “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang mukmin. Jika diberi sesuatu yang menggembirakan, ia bersyukur, maka hal itu merupakan kebaikan baginya, dan apabila ia ditimpa suatu musibah ia bersabar, maka hal itu juga baik baginya”
. Bala’ dan musibah, termasuk terpapar virus corona, yang menimpa seorang mukmin jika dihadapi dengan penuh kesabaran, maka dosanya akan dihapus dan diangkat derajatnya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Virus corona juga mengingatkan kita akan pentingnya belajar ilmu,
terutama ilmu agama. Karena orang yang tidak berilmu, maka ia tidak akan bisa menyikapi musibah dengan benar sesuai tuntunan Islam. Tanpa ilmu, kita tidak akan bisa menjaga kesucian dan kebersihan sebagaimana mestinya. ,
Tanpa ilmu, kita tidak akan bisa memetik hikmah, makna dan pelajaran dari setiap kejadian.
Hadirin yang dirahmati Allah, Demikian khutbah yang dapat saya sampaikan pada kali ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
العظيم أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Covid 19
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَتِهِ وَعَدْلِهِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا شَبِيْهَ وَلَا مِثْلَ وَلَا نِدَّ لَهُ، وَلَا حَدَّ وَلَا جُثَّةَ وَلَا أَعْضَاءَ لَهُ
. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا وَعَظِيْمَنَا وَقَائِدَنَا وَقُرَّةَ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ. اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهُ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
١٩١). أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُم
وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى الله
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,Mengawali khutbah pada kesempatan kali ini, khatib berwasiat kepada semua jamaah Jumat , terutama kepada diri Saya pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah swt.
dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan.
Hadirin jama'ah Jumat yang dirahmati Allah,
Bulan Rajab sudah berlalu meninggalkan kita. Begitupun bulan Sya’ban,
Dan gerbang menuju sebuah pendidikan tempat bagi kita semua untuk menempa diri, yaitu bulan Suci Ramadhan Sudah kita lalui.
hari yang pitri pun baru saja terlewati tapi musibah belum juga beranjak dari Negeri kita. Semakin hari diluar sana semakin banyak orang yang terinfeksi virus
. Dari waktu ke waktu semakin banyak orang yang meninggal karena terpapar virus .
marilah kita jadikan musibah mewabahnya virus corona ini sebagai pelajaran bagi kita semua. Kita yakin bahwa dalam setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Setiap kejadian pasti ada maknanya. Setiap musibah pasti ada pelajaran yang bisa dipetik darinya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
: رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا (ءال عمران: ١٩١)
Maknanya: “Ya Tuhan kami, kami bersaksi bahwa tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia (melainkan mempunyai hikmah dan tujuan di balik ciptaan itu semua)” (QS Al ‘Imran: 191).
Pada kesempatan khutbah ini, khatib akan mengulas tema
“mencari hikmah di balik merebaknya covid 19”.
Hadirin rahimakumullah,
Sebagaimana diberitakan bahwa virus corona ini bisa menyerang siapa pun. Tua, muda, kaya, miskin, laki-laki, perempuan, muslim, non muslim, orang yang shalat, orang yang tidak shalat. Siapa pun tanpa terkecuali. Hal ini mengingatkan kita akan apa yang pernah ditanyakan Zainab binti Jahsy radliyallahu ‘anhu kepada Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟
Maknanya: “Apakah kita akan binasa, padahal di antara kita masih ada orang-orang yang shalih?” atau mu'min
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ
Maknanya: “Iya, jika dosa dan maksiat sudah banyak dilakukan” (HR Muslim).
Melalui wabah COVID 19 , kita diingatkan bahwa dosa, maksiat, dan kemungkaran telah mewabah di lingkungan kita, di masyarakat kita. Melalui virus itu , kita juga ditegur bahwa banyak di antara kita yang acuh tak acuh terhadap kemungkaran yang menjalar di tengah-tengah kita.
Kemungkaran, dosa dan maksiat itulah yang mengundang azab Allah kepada kita semua. Kita diingatkan untuk lebih giat lagi dalam beramar makruf dan bernahi mungkar. Tentu amar makruf kita harus dilandasi ilmu sehingga kita dapat beramar makruf dengan cara yang makruf, dengan cara yang baik, dan bernahi mungkar dengan cara yang tidak mungkar.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Melalui wabah itu , kita juga diingatkan untuk semakin mendekatkan diri kita kepada Allah dengan ibadah, dzikir dan lain sebagainya. Ibadah akan menenteramkan jiwa dan menenangkan hati. Ketenteraman dan ketenangan hati inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat daya tahan tubuh kita semakin kuat dan sistem imun dalam tubuh kita bekerja dengan baik.
Kita diingatkan untuk memperbanyak istighfar dan bertobat dari semua dosa yang pernah kita lakukan.
Karena musibah yang menimpa banyak orang seperti merebaknya virus corona itu , yang shalih dan yang fasiq pun tak luput terkena,
tiada lain dikarenakan banyaknya kemaksiatan yang menyebar di tengah-tengah masyarakat kita.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Melalui wabah itu , kita juga diingatkan bahwa segala sesuatu tidak terlepas dari takdir Allah. Virus itu dengan cepat telah menyebar ke 198 negara di dunia dan menginfeksi lebih dari 600.000 orang. Angka ini bisa saja terus bertambah dari hari ke hari.
ikhtiar sudah dilakukan.
Semua usaha telah dikerahkan.
Seluruh upaya, baik lahir maupun batin, sudah dikerjakan semaksimal dan seoptimal mungkin. Namun sampai detik ini tiada siapa pun yang dapat menghentikan penyebarannya. Terkecuali dengan se ijin Allah SWT
Hal ini membuktikan bahwa apa pun yang diupayakan manusia, jika tidak dikehendaki dan ditakdirkan Allah, pasti tidak akan terjadi.
Akan tetapi keyakinan dan keimanan kita kepada takdir tidak boleh menghentikan ikhtiar kita. Berikhtiar tidaklah menggoyahkan keimanan kita kepada takdir.
Karena kita tidak mengetahui apa yang Allah takdirkan pada diri kita kecuali setelah terjadinya. Sebelum sesuatu terjadi, maka tugas kita sebagai manusia adalah melakukan sebab dengan harapan kita akan menghasilkan akibat.
Tugas kita selanjutnya apa?.
Terus berikhtiar dan berusaha,
Semoga Allah mewujudkan dan menakdirkan apa yang kita inginkan. Wabah itu cepat berlalu.
Melalui virus corona kita juga diingatkan akan kelemahan kita sebagai makhluk Allah.
Sebagai makhluk yang lemah yang memiliki banyak keterbatasan, tidak selayaknya kita menyombongkan diri.
Hanya oleh makhluk yang sangat kecil saja, banyak orang dibuat tak berdaya, jatuh sakit dan bahkan meninggal dunia.
Hanya Allah yang Mahakuasa dan tidak terkalahkan. Sedangkan kita adalah makhluk-makhluk lemah yang senantiasa membutuhkan Allah dalam setiap tarikan nafas kita.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Melalui virus corona kita juga diingatkan bahwa pengetahuan manusia tidaklah mampu menjangkau segala sesuatu. Pengetahuan manusia ada batasnya dan tidak sempurna. Allah-lah Sang Pemilik semua ilmu.
Allah-lah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Beberapa penyakit yang lain. Seperti aids juga sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan:
إِنَّ اللهَ لَمْ يُنْزِلْ دَاءً - أَوْ لَمْ يَخْلُقْ دَاءً - إِلَّا أَنْزَلَ - أَوْ خَلَقَ - لَهُ دَوَاءً عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ، وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ إِلَّا السَّامَ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا السَّامُ؟ قَالَ: المَوْتُ
Maknanya: “Sesungguhnya Allah tidaklah menciptakan penyakit kecuali Ia pasti menciptakan obat untuknya, kecuali kematian” (HR al-Hakim dalam al-Mustadrak).
Hadirin yang dirahmati Allah,
Saudaraku seiman,
Virus corona juga mengingatkan kita akan arti penting sabar dan syukur.
Bersyukur apabila kita dihindarkan dari segala macam musibah dan bersabar pada saat kita ditimpa musibah.
Syukur dan sabar adalah senjata bagi seorang mukmin dalam mengarungi kehidupan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Maknanya: “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang mukmin. Jika diberi sesuatu yang menggembirakan, ia bersyukur, maka hal itu merupakan kebaikan baginya, dan apabila ia ditimpa suatu musibah ia bersabar, maka hal itu juga baik baginya”
. Bala’ dan musibah, termasuk terpapar virus corona, yang menimpa seorang mukmin jika dihadapi dengan penuh kesabaran, maka dosanya akan dihapus dan diangkat derajatnya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Virus corona juga mengingatkan kita akan pentingnya belajar ilmu,
terutama ilmu agama. Karena orang yang tidak berilmu, maka ia tidak akan bisa menyikapi musibah dengan benar sesuai tuntunan Islam. Tanpa ilmu, kita tidak akan bisa menjaga kesucian dan kebersihan sebagaimana mestinya. ,
Tanpa ilmu, kita tidak akan bisa memetik hikmah, makna dan pelajaran dari setiap kejadian.
Hadirin yang dirahmati Allah, Demikian khutbah yang dapat saya sampaikan pada kali ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
العظيم أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar